Sekitar 20 orang (serdadu) India (milik Inggris), di sebuah bangunan di sisi lain alun-alun, telah terputus dari komunikasi lewat telepon dan tidak tahu tentang gencatan senjata. Mereka menembak secara sporadis pada massa (Indonesia). Brigadir Mallaby keluar dari diskusi (gencatan senjata), berjalan lurus ke arah kerumunan, dengan keberanian besar, dan berteriak kepada serdadu India untuk menghentikan tembakan. Mereka patuh kepadanya. Mungkin setengah jam kemudian, massa di alun-alun menjadi bergolak lagi. Brigadir Mallaby, pada titik tertentu dalam diskusi, memerintahkan serdadu India untuk menembak lagi. Mereka melepaskan tembakan dengan dua senapan Bren dan massa bubar dan lari untuk berlindung; kemudian pecah pertempuran lagi dengan sungguh gencar. Jelas bahwa ketika Brigadir Mallaby memberi perintah untuk membuka tembakan lagi, perundingan gencatan senjata sebenarnya telah pecah, setidaknya secara lokal. Dua puluh menit sampai setengah jam setelah itu, ia (Mallaby) sayangnya tewas dalam mobilnya-meskipun (kita) tidak benar-benar yakin apakah ia dibunuh oleh orang Indonesia yang mendekati mobilnya; yang meledak bersamaan dengan serangan terhadap dirinya (Mallaby).


Tulisan di atas saya kutip dari wikipedia, menggambarkan peristiwa menjelang kejadian 10 november 1945 yang akhirnya kita peringati sebagai hari pahlawan. Saat itu di bawah pimpinan Bung Tomo, kemudian tokoh tokoh agama seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya. Pertempuran ini memakan waktu berminggu-minggu. Pihak Inggris sama sekali tidak menduga bahwa akan ada perlawanan yang begitu sengit dari rakyat Surabaya. Saat itu seluruh lapisan rakyat surabaya yang terdiri dari tukang becak, bakul soto, bakul tahu, orang madura, tukang rombengan, arek arek suroboyo dan pemuda pemuda Indonesia bersatu melawan Tentara Inggris. Keberanian rakyat Surabaya menjadi semacam inspirasi bagi rakyat Indonesia di wilayah lain untuk melawan penjajahan Inggris.


Lalu bagaimanakah kalau kita bandingkan dengan keadaan sekarang, setelah 65 tahun berlalu?. Saya sendiri sangat kagum dengan keberanian dan semangat Bung Tomo dan rakyat Surabaya yang dengan berani melawan Tentara Inggris. Kita masih bisa meneruskan dan mewarisi ke keberanian mereka untuk melawan berbagai macam penjajahan yang saat ini melingkupi bangsa Indonesia. Penjajahan tersebut bukan berupa agresi militer dari negara Asing atau serangan Meriam dari Belanda. Akan tetapi, lawan kita adalah kemalasan dan kebodohan yang melingkupi bangsa Indonesia.
Berkali kali diberitakan diberbagai media, bahwa ternyata banyak pemimpin yang seakan tidak mau tahu dengan kondisi rakyat Indonesia. Mereka seakan bukan bagian dari rakyat Indonesia, bahkan bisa dikatakan mereka sering “mencatut” nama rakyat Indonesia untuk kepentingan pribadinya. Tapi biarlah mereka melakukan semua itu. Dan biarlah pula di kritik habis habisan oleh para kritikus, mahasiswa dan demonstran.
Semangat Bung Tomo masih bisa kita wujudkan dalam berbagai aspek kehidupan dan pekerjaan yang kita lakukan hari ini. Jika Bung Tomo dengan gagah berani melawan Tentara Asing, maka tidak berarti juga kita harus menolak semua hal yang berbau asing. Yang perlu kita lakukan adalah mempelajari dan berusaha mendapatkan nilai positif dari berbagai produk dan pengaruh asing. Contohnya Internet dengan Facebook, Blogger, wordpress dll. Semua adalah produk asing. Kita harus bisa memanfaatkan dan menciptakan teknologi ataupun kebijakan yang bisa memudahkan anak bangsa ini untuk terus berkreatifitas demi kemajuan bangsa Indonesia. Mari kita wujudkan semangat 10 November untuk terus berkreatifitas demi Bangsa Indonesia. MERDEKA..!!!