Indonesia, sebuah negara kepulauan yang kaya raya dengan berbagai sumber daya alam, dulu pernah diramalkan akan menjadi salah satu negara besar. Namun ramalan tinggal ramalan yang sampai kini belum terbukti. Kekayaan sumber daya alam yang ada tidak menyebabkan Indonesia menjadi terhormat di mata dunia. Kita ketinggalan dengan negara yang miskin sumber daya alam, seperti Jepang ataupun Singapura.

Bob Sadino pernah mengatakan, bahwa negara Indonesia ini sangat rendah yang berprofesi sebagai Wiraswasta atau Entrepreuner. Dibandingkan Singapura, Indonesia kalah jumlah Wirausahawannya. Katanya” Kasian Deh lo”. Menjadi Wiraswasta bagi sebagaian orang bukanlah sebuah pilihan. Kebudayaan, dan atmosfer kenyamanan dalam bekerja menyebabkan kita lebih menjadikan pekerjaan lain, misalnya PNS sebagai prioritas utama. Coba tanyalah para Sarjana yang baru lulus kuliah. Atau orang tua mana yang tidak ingin punya anak atau menantu yang berprofesi sebagai PNS 🙂.

Tak berasalan memang, jika sebagian dari kita tidak tertarik berprofesi sebagai wirausaha. Menjadi pengusaha tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Marilah saya berikan alasan betapa sulitnya jadi kaya dari profesi wiraswasta. Baru memulai saja pikiran kita sudah berkata macam-macam. Mulai dari kekurangan modal, kekurangan pengalaman, kurang percaya diri, tidak bakat, sampai kelebihan modal. Modal kecil membuat kita mundur untuk jadi pengusaha, sebaliknya modal besar membuat kita takut kehilangan modal tersebut. Dan setiap orang bisa punya bermacam alasan. Ditambah rendahnya penghargaan masyarakat terhadap profesi pengusaha jika belum sukses. Sebagaian masyarakat lebih menghargai profesi lain, PNS, TNI/ Polri. Sedangkan pengusaha, Bulan ini untung banyak, bulan depan bisa jadi nggak makan. Itulah ketidakpastian menjadi pengusaha.

Berbagai profesi yang dipilih sebenarnya tidak menjadi masalah, toh itu pilihan hidup setiap orang dan pasti juga memiliki pertimbangan yang matang. Di mata Allah kemuliaan manusia tidak ditentukan jenis pekerjaannya, akan tetapi berdasarkan ketaqwaannya. Memang yang saya kemukakan di atas hanya berdasar pengamatan dan keadaan yang terjadi di beberapa daerah yang saya temui. Bukan berdasarkan penelitian yang akurat, bisa jadi benar atau malah salah sama sekali.