Judul Blog ini adalah Laboratorium Bahasa, yang berisi berbagai informasi Lab Bahasa, Lab Bahasa Digital, Lab Bahasa Multimedia dan Laboratorium Bahasa lainnya. Saya sudah lama tidak menulis, oleh karena itu saya akan menulis dan bercerita. Ketika pulang dari kantor tadi malam, saya dan teman teman kerja, seperti biasa makan di warung pecel lele favorit saya dan teman teman lainnya. Sudah menjadi kebiasaan ketika berkumpul, kami akan ngobrol tentang tema apapun, dan yang selalu kami bicarakan adalah tentang pekerjaan. Pekerjaan sebagai karyawan Outsourcing. Kami membicarakan berbagai hal tentang pekerjaan, mulai dari tingkah laku teman kerja, kemudian tentang atasan, tentang perusahaan, tentang suasana pekerjaan dan semua hal tentang pekerjaan. Dan inti dari pembicaraan tersebut adalah berisi keluhan, meskipun ada juga yang mencoba memaksakan diri untuk menikmati pekerjaan sehari hari.

Kita membicarakan bagaimana setiap briefing, isinya hanyalah target, target target !! tekanan tekanan tekanan !!, kalau pun ada info baru isinya hampir senada. “Jadi target dari perusahaan seperti ini, kalian harus ini, harus itu”. Saat seperti itulah kita benar benar sebagai seorang karyawan, otak kita sudah di setel otomatis menjadi robot, untuk menghasilkan uang sebanyak banyaknya bagi perusahaan. Sebagai Sarjana, idealis kita benar benar sudah mati total.
Saya tidak akan berpanjang lebar menceritakan keluhan selama bekerja, karena toh dimanapun tempatnya, yang namanya pekerjaan memang seperti itu, mengejar target. Yang jadi masalah sebenarnya bukan terletak pada targetnya, akan tetapi bisa tidak kita menganggap target itu sebagai sebuah tantangan. Kalau saya tidak, target yang di sosialisaikan itu adalah target perusahaan, bukan target saya. Kecuali saya mencintai pekerjaan itu, mungkin dengan senang hati melakukan itu semua. Hal yang mungkin dilupakan adalah bahwa ketika perusahaan membuat target, kemudian di sosialisaikan ke karyawan, tidak banyak karyawan yang berespon positif dengan target perusahaan, seperti saya, sebaliknya justru keluhan yang muncul. Dan perusahaan tidak mau tahu. toh dengan mudah pihak perusahaan akan membuka lowongan pekerjaan di koran, untuk mencari karyawan baru. Dan mungkin seperti itulah siklusnya. Sementara kita antara mau tidak mau, takut kehilangan pekerjaan, melakukan itu semua meskipun itu bukan pekerjaan yang kita senangi. Kita korbankan hati kita, kebahagiaan kita untuk terpaksa bekerja membesarkan perusahaan orang lain.
Lalu bagaimanakah solusinya. Belajar dari Mas Nukman Luthfie dalam artikelnya yang berjudul Bercinta Setiap Hari, membuat saya ingin segera mengakhiri ini semua, untuk memburu passion saya, sehingga ketika kita di tekan tekan sekuat apapun, kita tetap akan semangat, karena kita mencintai pekerjaan kita. Kalau memang sudah tidak menemukan passion kita di pekerjan ini, kita harus berani meninggalkan pekerjaan itu. Apapun resikonya. Lalu apa yang harus dilakukan perusahaan, kalau menurut saya, buatlah target itu menjadi sesuatu yang di cintai oleh karyawannya. Kecuali memang perusahaan hanya ingin membuat manusia menjadi robot robot. Jadi silahkan temukan passion dan cinta anda dalam pekerjaan anda, seperti saya yang saat ini sedang mencari.:)