Hampir setiap hari saya pulang lebih dari jam 00:00. Setiap hari pula saya melewati perempatan Grogol, Jakarta Barat. Di perempatan Ibukota masih saja ada aktivitas, bajaj, ojek dan para tunawisma yang tidak memiliki tempat tinggal. Mereka tetap beraktivitas mencari rezeki di antara kendaraan yang berhenti di lampu merah, kuning dan hijau.

Kemudian ketika hari beranjak fajar. Mereka(para tunawisma) beristirahat,tidur di antara trotoar Jakarta. Pagi tadi saya melihat sendiri, seorang dari mereka tidur di tepi trotoar busway. Di sebelah kanannya adalah pagar besi dan di kiri Jalur Busway, ukuran tepi trotoar itu tidaklah lebar.


Mungkin syair dari Iwan Fals ini,cukup mewakili kota Jakarta.

Seorang anak kecil bertubuh degil
Tertidur berbantal sebelah lengan
Berselimut debu jalanan

Rindang pohon jalan menunggu rela
Kawan setia sehabis bekerja
Siang di seberang sebuah istana
Siang di seberang istana sang raja

Kotak semir mungil dan sama dekil
Benteng rapuh dari lapar memanggil
Gardu dan mata para penjaga
Saksi nyata… yang sudah terbiasa

Tamu negara tampak terpesona
Mengelus dada gelengkan kepala
Saksikan perbedaaan yang ada

Sombong melangkah istana yang megah
Seakan meludah di atas tubuh yang resah
Ribuan jerit di depan hidungmu
Namun yang ku tau…. tak terasa terganggu

Gema azan ashar sentuh telinga
Buyarkan mimpi si kecil siang tadi
Dia berjalan malas melangkahkan kaki
Di raihnya mimpi di genggam tak di letakkan… lagi