Gara-gara dikompor-kompori sama Kol. Novianto, tentang film ayat-ayat cinta. Sampai-sampai beliau posting di web MenwaUMS, Saya agak penasaran dengan film ini. Film yang diangkat dari novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. Novelnya saya memang belum pernah baca. Saya langsung nyari kata kunci “ayat-ayat cinta” di google.com. Pertama kali saya nemu artikel di dengan judul Film Ayat-Ayat Cinta = Buruk!. Saya baca juga artikel tersebut, sebagaimana saya duga, banyak bermunculan komentar di artikel tersebut. Lalu saya nyari lagi, ada artikel dengan judul Film Ayat-ayat Cinta -Lebih Berbahaya Dari Film Maksiat sebuah Analisa dari Ustad Lukaman”. Ada juga Ayat-ayat setan berkedok ayat-ayat cinta Wah gak jadi nonton yen ngono. Tapi akhirnya saya coba cari lagi komentar yang agak positif, misalnya di blognya atmaja.web.ugm.ac.id, atau di blognya mas Harry Sufehmi . Komentar yang agak “pertengahan” bisa anda baca di eramuslim.com dalam forum tanya-jawab.

Wah ternyata film ini menimbulkan banyak diskusi, perdebatan dan persepsi. Dan terutama saya jadi punya bahan buat mengisi blog saya ini.
Untuk soundtracknya sendiri, sebelumnya saya agak ragu dengan keIslaman film ini, Karena soundtrack lagu ini adalah Lagu dari Rossa, bukan Opick atau Hadad Alwi. Tapi saya ingat bahwa sang penulis sendiri mengatakan bahwa ini memang bukan film tentang agama, tapi kisah cinta. Ada baiknya anda baca juga Setelah nonton film ini, saya agak terhibur, karena soundtracknya bukan hanya lagu Ayat-ayat cinta saja, tapi melibatkan Kyai Kanjengnya Emha Ainun Najib. Cak Nun langsung sholawatan di awal film ini.

Layak Ditonton..
Akhirnya, Saya berpendapat, film ini layak untuk ditonton, dengan alasan, Film ini melibatkan ahli di bidang masing-masing. Ada Produser, sutradara, penulis novel, tokoh agama dll. Semuanya berkompeten di bidangnya. Coba baca Kisah di Balik Produksi Ayat-ayat cinta langsung dari pembuat filmnya, yaitu Mas Hanung Bramantyo.
Nah, saya kira untuk, rekan-rekan yang kurang sreg atau bahkan sangat tidak berkenan dengan kehadiran film ini, perlu membuat film yang benar-benar Islami dan bisa jadi sarana dakwah efektif. Karena menurut Pak Ersis, menolak tanpa ada perubahan sama dengan bonek. Bagaimana tidak bonek, kelakuan tidak berubah, tetapi rasa tersinggung makin bertambah”. Ayo kita buat film…