Setelah meluangkan waktu diantara kesibukan aktivitas di kota jakarta, kami bertiga, Mas Katon (eks kaur diklat/psikologi UMS), Pam Bagus (Eks Kasi I Pam/Psikologi UMS) dan saya akhirnya bisa bertemu. Mas Katon yang juga senior saya di Menwa mau merendahkan hati untuk berkunjung ke tempat saya dan Pam Bagus. Padahal seharusnya, kamilah yang harus “menghadap” beliau, mengingat posisi kami sebagai yunior di Menwa dan juga adanya kesepakatan tak tertulis, yang mewajibkan setiap anggota Menwa, maupun alumni untuk selalu menghormati kepada senior. Menghormati di sini, bukan berarti kami harus selalu “Hormat Grak”, akan tetapi lebih dari itu. Kita menghormati senior kita, sebagai kakak, sebagai orang yang lebih tua.
Inilah nilai lebih organisasi MenwaUMS. Meskipun kita sudah alumni, tapi ikatan persaudaraan semakin kuat tertanam, bahkan di kota Jakarta (yang kata orang lebih kejam dari ibu tiri).

Banyak hal yang kita bicarakan bertiga, mulai dari pekerjaan, hobi(termasuk hobi ngeblog) dan terutama adalah tentang Menwa itu sendiri. Terus terang waktu dulu kami masih mahasiswa, banyak alumni yang mengatakan bahwa kuliah adalah pasword bagi kita untuk masuk ke pekerjaan atau karier. Di lapangan, ilmu organisasilah yang sebenarnya berperan. Mas Katon yang juga alumni Psikologi UMS, juga berkali-kali menyampaikan bahwa, organisasi adalah tempat kita magang sebelum kita berkarir. Karir disini bukan berrti kita harus menjadi Tentara atau Polisi. Ah, serasa kita kembali lagi ke kampus UMS, duduk di mako Menwa di bawah pohon matoa yang sekarang sudah sering berbuah.