Resimen Mahasiswa (MENWA) adalah konsep Bela Negara yang paling ideal di Indonesia. Anggota Menwa adalah sekumpulan mahasiswa yang memiliki idealisme yang murni tentang nasionalisme. Mereka dengan sukarela mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran untuk menyiagakan diri menjadi cadangan nasional jika sewaktu-waktu negara membutuhkan. Dengan idealismenya, Menwa terus berlatih meskipun tidak mendapat dukungan, Setelah melaksanakan Pra Pendidikan Dasar, dirangkai dengan DIKSAR, Menwa tidak pernah menuntut apapun kepada negara, termasuk gaji sekalipun.
Bahkan anggaran selama menjadi anggota Menwa di dapat dari unsur swasta, kecuali Menwa Perguruan Tinggi Negeri. Menwa-Menwa Perguruan Tinggi swasta merencanakan kegiatan, melaksanakan kegiatan termasuk DIKSAR dengan menggunakan dana dari pihak swasta. Sesuatu yang sangat aneh, sebuah unsur pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang siap mengabdi demi Indonesia tercinta, ternyata makan, minum dan berfikirnya dibiayai oleh swasta, yaitu pihak Universitas, itupun harus melalui lobi-lobi yang sangat prosedural.

Yang aneh lagi ternyata Menwa-menwa ini masih saja loyal kepada NKRI. Sebagai unsur pertahanan, bersama rakyat dan TNI, Menwa selalu siaga jika sewaktu-waktu terjadi gejolak di Indonesia, selama masa siaga dan tidak terjadi gejolak, Menwa tidak mendapat apapun dari Negara ini. selain sertifikat DIKSAR, yang itupun dibeli dengan dana dari pihak swasta.

Sebenarnya, apa sulitnya bagi Pemerintah melalui Dephan, Depdagri dan Depdiknas untukmemberikan dana operasional, pendidikan dan latihan kepada Menwa. JIka setiap perguruan tinggi diberi dana Rp.10.000.000 per tahun itu sudah sangat layak untuk membiayai kegiatan Menwa. Mungkin ada yang beranggapan, dana itu terlalu besar. Baik, coba kita hitung, gaji seorang prajurit TNI, anggap saja gaji bersihnya adalah Rp.1.000.000, berarti dalam satu tahun gaji prajurit adalah 1.000.000 X 12 = Rp.12.000.000. Dengan asumsi tersebut, berarti gaji seorang prajurit TNI satu tahun bisa untuk membiayai Menwa satu Universitas juga satu tahun. Bahkan masih sisa Rp. 2.000.000.
Berarti juga pemerintah mengurangi anggaran seorang prajurit TNI yang siap berkorban demi NKRI untuk dialihkan pada 50 orang MENWA yang juga siap berkorban demi NKRI. Jika ini terlaksana dengan baik, kekuatan pertahanan bangsa ini akan 50 kali lipat dengan tingkat efisiensi 50 kali lipat. PEmerintah tidak perlu membiayai hidup para personil Menwa, cukup hanya membiayai semua kegiatan Menwa. MENWA dan TNI sama-sama siaga, mereka juga unsur pertahanan, bedanya saat ini-mungkin sampai batas waktu yang tidak ditentukan-Menwa akan terus di biayai oleh swasta. TANYA KENAPA Dephan, Depdagri dan Depdiknas?